Beranda |  Profil |  Berita |  DPD |  Artikel |  Opini |  Liputan Media |  Gafatar TV |  Dokumentasi |  Press Release |  Kontak 
PENGURUS DPP
 
  •   
    Ketua Umum
    Mahful M Tumanurung
      
    Wakil Ketua Umum
    Wahyu Sandjaya
  •   
    Sekretaris Jenderal
    Berny Satria
      
    Bendahara Umum
    Muchtar Asni
  •   
    Ketua Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kepengurusan
    Dandy Kusuma
      
    Ketua Bidang Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
    Jusuf Damardjati
  •   
    Ketua Bidang Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak
    Dwi Ratna K
      
    Ketua Bidang Kesehatan
    Munandar
  •   
    Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan
    Iman Sumiarsa
      
    Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan Organisasi
    Swastanto
  •   
    Ketua Bidang Hukum dan HAM
    M.Tubagus Abduh
      
    Ketua Bidang Informasi, Komunikasi dan Hubungan Internasional
    M.Yusuf Daruwijaya
  •   
    Wakil Sekretaris Jenderal 1
    Kurniadhi Wibowo
      
    Wakil Sekretaris Jenderal 2
    M.Yusuf Daruwijaya
  •   
    Kepala Sekretariat Jenderal
    Zaenal Arifin
     
  •   
    Wakil Bendahara Umum 1
    M Ruchyat
      
    Wakil Bendahara Umum 2
    Herdian Widyo S
  •   
    Badan Penelitian dan Pengkajian Nusantara
    Heru Mulyantoro
      
    Badan Usaha Fajar Duta Mandiri
    Endang Supriyatna
 
AKSI GAFATAR
 


2012

2013
OPINI
 
BERITA
 
JEJARING SOSIAL
 
 
PROFIL GAFATAR
 

PRAKATA

 Segala Puji hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta, Raja langit dan bumi, yang telah menunjuki jalan kebenaran dan menguatkan kita dalam menapaki jalan kemuliaan, jalan perubahan menuju kemerdekaan dan kedamaian sejati. Sebuah jalan yang dirindukan oleh setiap diri di muka bumi. Jalan Kebenaran yang tidak dapat dipungkiri oleh makhluk apapun di muka bumi. Hanya dengan berjalan pada Jalan Kebenaran, maka setiap makhluk dapat hidup secara seimbang, teratur, dan saling melayani.


 Jalan kebenaran ini dapat menjadi pintu bagi untaian keharmonisan hidup bagi setiap insan di alam raya, termasuk kita yang berdiam di bangsa Nusantara ini. Untaian keharmonisan ini menjadi cita-cita ideal pada setiap era peradaban. Walau terbangun atas beragam suku, bahasa, adat istiadat, dan keyakinan, namun keberagaman itu diharapkan akan memperkaya aset bangsa untuk menjadi kekuatan integral bagi Ibu Pertiwi. Setiap diri mendambakan untuk hidup dalam tatanan masyarakat heterogen yang rukun, saling menghormati, tepo seliro, adil, sejahtera, arif dan bijaksana.


 Bumi yang kita pijak adalah karunia yang luar biasa dari Yang Maha Agung. Tanah Air Nusantara adalah rumah di mana kita dilahirkan dan dibesarkan sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta, Pengatur dan Pendidik alam semesta, termasuk bumi tempat putera-puteri Nusantara berkarya. Adalah ironi jika kita tidak mencintai rumah tinggal kita sendiri, membiarkannya tak terurus, atau menyia-nyiakan karunia kekayaan duniawi ini sebagai amanah dari Dia Yang Maha Kaya. Lebih dari itu, putera-puteri dan anggota keluarga yang berada dan hidup dalam tatanan cinta dan kasih sayang alam Nusantara adalah bagian dari karunia itu sendiri.


 Sangat disayangkan pula apabila hari ini tatanan budaya cinta dan kasih sayang antar sesama anak kandung Ibu Pertiwi yang hidup di dalam rumah besar ini, dari Sabang hingga Merauke, yang telah terbina dan dipelihara oleh para leluhur Nusantara secara turun-temurun, kini mengalami degradasi spirit persatuan dan kesatuan, dekadensi moral, abrasi budi pekerti, hanyut terbawa hantaman zaman, hingga tiba-tiba saja hari ini kita tersadar betapa merosotnya moral dan budi pekerti yang dimiliki saudara-saudara kita serumah dan setanah air, dan betapa jauhnya abrasi budaya yang telah terjadi.


 Siapa pun hari ini mengetahui bahwa kondisi Ibu Pertiwi yang kita cintai sedang merintih akibat keterpurukan di berbagai sendi kehidupannya. Mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, hingga pertahanan dan keamanan, porak poranda dihantam sesuatu yang kita sendiri gelap, apa dan bagaimana penyebab dari semua ini. Kita hanya bisa meraba-raba dan menebak-nebak kondisi yang ada tanpa mampu membaca dengan tepat dan benar apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Akhirnya, kita hanya mampu berdiskusi dan saling menyalahkan bahkan saling melempar tanggung jawab serta menduga-duga apa penyebab semua ini, sembari mencoba menanggulanginya dengan tindakan parsial dan tambal sulam. Sangatlah wajar jika sampai saat ini, tidak ada perbaikan yang berarti, bahkan kondisinya kian hari kian tak pasti.


 Lalu di manakah letak akar dari permasalahan bangsa ini, sehingga belum juga mampu keluar dari keterpurukannya di segala lini kehidupannya? Mengapa bangsa yang sudah 67 tahun lebih merdeka, namun belum mampu mensejahterakan seluruh rakyatnya? Mengapa Ibu Pertiwi belum juga bisa menjadi mercusuar dunia? Bukankah negeri ini kaya akan sumber daya alam, kekayaan hutan dengan beragam ekologi di dalamnya sekaligus sebagai paru-paru dunia, kekayaan bahari, kaya akan suku dan bahasa, sumber daya manusia yang tak kalah jeniusnya dari anak bangsa lain dan kaya akan nilai-nilai tradisi serta budaya lokal?