Beranda |  Profil |  Berita |  DPD |  Artikel |  Opini |  Liputan Media |  Gafatar TV |  Dokumentasi |  Press Release |  Kontak 
PENGURUS DPP
 
  •   
    Ketua Umum
    Mahful M Tumanurung
      
    Wakil Ketua Umum
    Wahyu Sandjaya
  •   
    Sekretaris Jenderal
    Berny Satria
      
    Bendahara Umum
    Muchtar Asni
  •   
    Ketua Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kepengurusan
    Dandy Kusuma
      
    Ketua Bidang Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
    Jusuf Damardjati
  •   
    Ketua Bidang Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak
    Dwi Ratna K
      
    Ketua Bidang Kesehatan
    Munandar
  •   
    Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan
    Iman Sumiarsa
      
    Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan Organisasi
    Swastanto
  •   
    Ketua Bidang Hukum dan HAM
    M.Tubagus Abduh
      
    Ketua Bidang Informasi, Komunikasi dan Hubungan Internasional
    M.Yusuf Daruwijaya
  •   
    Wakil Sekretaris Jenderal 1
    Kurniadhi Wibowo
      
    Wakil Sekretaris Jenderal 2
    M.Yusuf Daruwijaya
  •   
    Kepala Sekretariat Jenderal
    Zaenal Arifin
     
  •   
    Wakil Bendahara Umum 1
    M Ruchyat
      
    Wakil Bendahara Umum 2
    Herdian Widyo S
  •   
    Badan Penelitian dan Pengkajian Nusantara
    Heru Mulyantoro
      
    Badan Usaha Fajar Duta Mandiri
    Endang Supriyatna
 
AKSI GAFATAR
 


2012

2013
OPINI
 
BERITA
 
JEJARING SOSIAL
 
 
BERITA BUDAYA GAFATAR
 

Meniliki Petilasan Pangeran Joyoboyo

15 Juni 2012 21:41:49



Kediri, Rabu (GAFATAR - D06) - Pada hari Rabu tanggal 13 Juni 2012, Dewan Pimpinan Kabupaten Gafatar Kediri menyelenggarakan kegiatan Napak Tilas Petilasan Sri Aji Jayabaya di daerah Pamenang, Kecamatan Pagu, Kediri. Kegiatan tersebut terselenggara dalam rangka melestarikan budaya, khususnya nilai-nilai budaya peninggalan Sri Aji Jayabaya dan juga lebih jauh untuk mengetahui sejarah Sri Aji Jayabaya.



Sebanyak 17 anggota Gafatar Kediri ikut menyemarakan kegiatan tersebut, dimana kegiatan tersebut diisi dengan acara sarasehan bersama juru kunci makam/penjaga makam Sri Aji Jayabaya. Para peserta ini mendengarkan dengan seksama apa yang di bicarakan oleh pembicara utama juru kunci makam tersebut yaitu mbah Misri.





Dalam kisah Jawa, Jayabaya (dibaca: Joyoboyo) adalah titisan Dewa Wisnu, penguasa negara Widarba yang beribu kota di Mamenang. Semasa hidupnya, Raja Jayabaya memiliki seorang permaisuri yang bernama Dewi Sara. Dari hasil perkawinannya, Raja Jayabaya memiliki tiga orang putri dan seorang putra. Tiga orang putri tersebut adalah Dewi Pramesti, Dewi Pramuna, Dewi Sasanti, dan seorang putra bernama Raden Jayaamijaya. Namun, pada saat ketiga putrinya telah dewasa dan menikah. Mereka bertiga diceraikan dan menjadi janda. Padahal, saat Dewi Pramasti diceraikan, ia sedang hamil. Pada masa kehamilan Dewi Pramasti yang telah mencapai sembilan bulan, Dewi Pramasti tidak juga melahirkan. Ia malah terus menerus kesakitan selama tujuh hari tujuh malam. Melihat keadaan putrinya yang demikian, maka Raja Jayabaya dan istrinya memohon petunjuk dewata. Waktu itu, Raja Jayabaya mendapat bisikan bahwa Ia harus melepaskan kedudukannya sebagai titisan Batara Wisnu. Demi cucu dan mengingat bahwa usianya telah semakin lanjut, maka ia segera ngraga sukma yaitu melepaskan sukma sebagai titisan Dewa Wisnu. Tidak lama kemudian lahirlah seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Lahirnya Anglingdarma ditandai dengan suasana alam yang benar-benar menakutkan. Kilat sambung menyambung, hari gelap gulita dan gempa pun menggoncang bumi. Seolah dunia akan berakhir saat itu juga. Melihat keadaan tersebut, Raja Jayabaya memanggil seluruh perwira dan kerabat keraton. Beliau mengumumkan tentang kelahiran Anglingdarma. Dari tubuh Anglingdarma tampak sinar terang memancar. Tapi bersamaan dengan itu pula para perwira dan kerabat kaget. Raja Jayabaya menghilaang tanpa bekas, kembali ke alam kelanggengan.







Menurut Misri sang juru kunci petilasan, ada empat tempat sakral di komplek tersebut. Beberapa tempat itu adalah :

1.    Loka mukso yaitu tempat prabu Jayabaya menghilang atau mukso,

2.    Loka busana tempat meletakkan busana kebesarannya sebelum muksa,

3.    Loka mahkota sebuah tempat untuk meletakkan mahkotanya,

4.    Sendang Tirto Kamandanu tempat pemandian yang biasa digunakan Jayabaya.



Sri Aji Jayabaya adalah Raja Kediri yang memerintah antara 1135-1157. Ia konon berhasil menyatukan kembali Jenggala yang dipisahkan oleh Airlangga, Raja Kahuripan, pada 1042 saat Airlangga turun tahta. Sri Aji Jayabaya juga terkenal dengan kitab “Jongko Joyoboyo” yang berisi ramalan-ramalan kejadian di Pulau Jawa sejak jaman Aji Saka sampai sampai datangnya hari kiamat. Banyak pihak meyakini isi ramalan tersebut benar terjadi, meski saat ini naskah aslinya tidak dapat dijumpai lagi. Juru kunci petilasan membenarkan jika Jongko Joyoboyo adalah peninggalan dari Kerajaan Kediri yang saat ini sudah tak berwujud. Naskah aslinya yang diperkirakan ditulis di atas daun lontar diduga ikut lenyap bersamaan dengan hancurnya fisik kerajaan.



 Jongko Joyoboyo adalah sekumpulan sabda dari Sri Aji Jayabaya yang ditulis oleh 2 orang pujangga kepercayaannya. Belakangan sabda tersebut lebih dikenal sebagai ramalan, karena banyak yang saat ini terbukti dan juga masa mendatang. Gambaran kejadian yang akan datang dalam Jongko Joyoboyo dipecah menjadi 3 masa, yaitu Kalisworo, Kaliyogo dan Kalisangsoro. Meski sudah tak berwujud Jongko Joyoboyo bukan berarti tidak dapat diketahui, karena petikan-petikannya sekarang banyak digandakan. Kalau yang petikan biasanya sudah diubah jadi syair-syair Jawa, seperti tembang. Ada yang kinanthi, dandang gendhis dan lain sebagainya.







Untuk contoh tembang kinanthi yang termuat di petikan Jongko Joyoboyo, diantaranya adalah riwayat kanthi daharu, lelakone jaman wuri, kang badhe jumeneng nota amengku bawono jawi, kusumo trahing narendro kang sinung panggalih suci. Tembang tersebut banyak disebut merupakan ramalan untuk pemimpin bangsa Indonesia mendatang, yang bisa menjadikan negara ini makmur sejahtera.



Pada awal tahun baru Hijriyah atau 1 Muharam komplek tempat muksanya Jayabaya ramai dikunjungi orang. Mereka datang dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Mulai dari sekedar berziarah hingga mencari berkah.

 






 
20 April 2014 02:40:19  Ratusan Kader Ramaikan Kirab Kendi Pancasila
15 April 2014 09:52:44  Sumbar Lantik Ketua Baru
13 April 2014 17:00:20  Ketua Umum GAFATAR Kunjungi GAPOKTAN KALTENG
12 April 2014 03:23:27  Panen Jagung di GAFATAR Gorontalo
12 April 2014 12:25:56  Audiensi GAFATAR Ke Kedaton Kesultanan Ternate
12 April 2014 12:25:56  Audiensi GAFATAR Ke Kedaton Kesultanan Ternate
02 April 2014 18:31:36  Meniti Fokus Organisasi